Archive for May, 2005

death of Al Hallaj

Sunday, May 29th, 2005

Alhallaj Now stands no more between Truth and me
Or reasoned demonstration,
Or proof of revelation;
Now, brightly blazing full, Truth’s lumination
Each flickering, lesser light.

Poem

Sunday, May 29th, 2005

Love’s Philosophy

The fountains mingle with the river,
  And the rivers with the ocean;
The winds of heaven mix forever,
  With a sweet emotion;
Nothing in the world is single;
  All things by a law divine
In one another’s being mingle;–
  Why not I with thine?

See!  the mountains kiss high heaven,
  And the waves clasp one another;
No sister flower would be forgiven,
  If it disdained it’s brother;
And the sunlight clasps the earth,
  And the moonbeams kiss the sea;–
What are all these kissings worth,
  If thou kiss not me?

Kehalalan Gudeg Jogya

Thursday, May 26th, 2005
dari homepage LPPOM-MUI
Daerah Istimewa Yogyakarta, selain terkenal dengan julukan kota pelajar, juga menyandang berbagai julukan lain seperti kota seni dan budaya, kota revolusi, kota sepeda, kota batik, juga sebagai kotak gudeg serta julukan lain yang merupakan cerminan dari hal-hal yang menonjol dari daerah tersebut. Dan itu tidak hanya populer di dalam negeri, tapi juga di manca negara.
Akan halnya gudeg, lauk pauk ini merupakan ciri khas kota tersebut. Bagi masyarakat Yogya sendiri, gudeg merupakan lauk pauk sehari-hari yang sulit ditinggalkan bersama nasi dan bubur. Sebenarnya dilihat dari bahan-bahan pembuatnya, gudeg nampaknya halal-halal saja.

Bahan pokoknya adalah nangka muda (orang Yogya menyebutnya ghori) yang direbus hingga lunak, lalu diberi santan dan bumbu dapur tertentu ditambah daun melinjo.

Tetapi, pengalaman saya membuktikan bahwa gudeg bisa dikategorikan jenis makanan syubhat, bahkan haram. Saya berkenalan dengan lauk pauk yang rasanya manis ini, antara tahun 1981-1987 ketika saya berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota tersebut.

Waktu itu saya kost hanya dengan menyewa kamar dan makan di luar. Selama itu hampir tiap pagi saya sarapan nasi gudeg. Selain manis, juga gurih, dan tentu saja murah.
Bahkan kalau pulang kampung, saya dan teman-teman kadang membawa oleh-oleh gudeg yang sudah dibuat tahan lama.

Selama beberapa tahun, saya menikmati gudeg tanpa ada rasa curiga atau berprasangka buruk tentang kehalalannya. Namun, pada suatu hari, ketika sedang membeli di warung langganan saya, saya melihat
di tempayan (tempat gudeg diolah), ada kepala dan leher seekor ayam yang masih utuh (tidak ada bekas sembelihan). Lalu saya tanya kepada si penjual gudeg, apakah ayamnya tidak disembelih?

Dengan ringan si penjual menjawab bahwa sudah bisa bagi jual/bakul gudeg bahwa setiap ayam yang dimasak untuk gudeg, ayam tersebut tidak disembelih, tetapi ditusuk dengan besi di bagian lehernya.

Sedang darah yang keluar ditampung dan nantinya dicampur dengan santan untuk dicampur dengan gudeg itu.
Dan justru darah inilah yang memberi rasa gurih dan meberi
warna kecoklat-coklatan.Masya Allah.

Saya benar-benar terkejut, dan gudeg yang saya
beli pagi itupun segera saya tinggalkan. Saya berusaha mencari informasi di tempat-tempat lain tentang bahan-bahan dan cara pembuatannya. Ternyata hampir semua jawaban sama, yaitu: ayamnya tidak disembelih, tapi ditusuk, darah ayam ditampung, lalu dimasukkan ke dalam gudegnya.

Pertanyaan kita, apakah semua penjual/pembuat gudeg melakukan hal yang serupa?

Wallaahua’lam. Dalam masalah ini sebagai konsumen Muslim, yang diperlukan tentu saja sikap jujur si penjual gudeg. Apakah ayamnya telah disembelih secara Islami dan otomatis darahnya tidak dicampurkan.

Kita memang perlu bersikap hati-hati. Jangan karena gudeg yang sudah merakyat, lalu kita seenaknya saja mengikuti selera orang kebanyakan, padahal Al-Qur’an jelas-jelas melarangnya:

Allah mengharamkan atas kamu (makan) bangkai,darah,daging babi, dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah (QS Al-An’am: 145)